CERITA KOLEKTIF DALAM TRADISI KELEMAN DAN BARIKAN (KAJIAN ETNOLINGUISTIK PADA SIMBOL SEDEKAH DESA)
DOI:
https://doi.org/10.31943/bi.v11i2.1406Keywords:
semiotika, etnolinguistik, keleman, barikan, budaya lokalAbstract
Abstrak
Penelitian ini mengkaji tradisi Keleman di Dusun Jombatan dan Barikan di Dusun Kedungbetik, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, melalui pendekatan etnolinguistik dan teori semiotika Roland Barthes. Kedua tradisi ini merupakan bentuk sedekah desa yang memuat nilai simbolik dan cerita kolektif masyarakat agraris Jawa Timur. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap lapisan makna denotatif, konotatif, dan mitologis yang terkandung dalam bahasa, simbol, dan tindakan ritual kedua tradisi tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat denotasi, Keleman dan Barikan merupakan bentuk syukur kepada Tuhan atas hasil panen dan keselamatan desa. Pada tingkat konotasi, keduanya menjadi representasi solidaritas sosial, penghormatan terhadap leluhur, serta penanda kohesi masyarakat agraris. Sedangkan pada tingkat mitos, kedua tradisi berfungsi sebagai teks budaya yang meneguhkan identitas kolektif dan spiritualitas masyarakat di tengah perubahan sosial modern. Penelitian ini menegaskan bahwa bahasa dan budaya di Kesamben saling mengukuhkan sebagai sistem tanda yang hidup dan adaptif terhadap zaman.
Kata Kunci: Semiotika; Etnolinguistik; Keleman; Barikan; Budaya Lokal; Makna Kolektif.
Abstrack
This study explores the Keleman tradition in Jombatan Hamlet and the Barikan tradition in Kedungbetik Hamlet, Kesamben District, Jombang Regency, through an ethnolinguistic approach and Roland Barthes’ semiotic theory. Both are forms of village thanksgiving rituals that embody symbolic meanings and collective narratives of East Javanese agrarian communities. The research aims to uncover the denotative, connotative, and mythic layers embedded in the linguistic expressions, symbols, and ritual acts of these traditions. The study employs a descriptive qualitative method with data collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation. The results reveal that, at the denotative level, both Keleman and Barikan serve as expressions of gratitude for agricultural harvests and communal well-being. At the connotative level, they represent social solidarity, reverence for ancestors, and communal cohesion. At the mythic level, these traditions function as cultural texts that reaffirm collective identity and spirituality amid social modernization. The study concludes that language and culture in Kesamben mutually reinforce each other as a living and adaptive semiotic system.



















